Teori Kepribadian Karen Horney

 

 

TEORI KAREN HORNEY
Disusun guna memenuhi tugas
Mata Kuliah : Psikologi Kepribadian
Dosen Pengampu : Dwi Yulis S., S.Psi, MM

 

 

Nama : Wijatmiko Prawiroguno

NIM : 20610012

Prodi : Psikologi

 

 

    Latar Belakang  

    Karen Danielson lahir pada tanggal 16 September 1885 di tengah keluarga Clotilde dan Berndt Wackels Danielson. Beliau dilahrkan di sebuah desa kecil tidak jauh dari Hamburg, sebelah utara Jerman. Ayahnya adalah seorang kapten kapal dengan berlatar belakang Norwegia, sedangkan ibunya adalah orang Belanda. Ayah Horney adalah seorang yang taat beragama, bersifat menguasai dengan keras sekali, angkuh, sering murung, dan pendiam, sementara ibunya adalah seorang yang menarik, periang, dan berpikiran bebas.

    Horney muda mengagumi ayahnya dan sangat merindukan perhatian dan cinta kasihnya, tapi dia ditakut-takuti oleh ayahnya. Selalu teringat di benak Horney “mata biru ayahnya yang menakutkan” dan ketegangannya, sifat banyak menuntut. Pada tahun-tahun pertama Horney merasa ditolak oleh ayahnya. Ayahnya seringkali melontarkan komentar-komentar bernada meremehkan tentang penampilan dan intelegensinya. Dia merasa diremehkan dan tidak menarik, meskipun kenyataannya dia cantik.

    Horney dekat dengan ibunya dan menjadi “putri pemuja,” sebagai cara untuk mendapatkan kasih sayang. Hingga usianya mencapai 8 tahun, Horney adalah seorang anak teladan, melekat dan selalu mengalah. Di tengah-tengah usahanya, dia masih saja tidak percaya bahwa dia telah memperoleh cinta kasih dan rasa aman yang dia butuhkan. Karena pengorbanan diri dan perilaku baik tidak berhasil, maka dia mengubah siasatnya.

    Pada usia 9 tahun, Horney menjadi seorang anak yang ambisius dan suka melawan. Dia memutuskan bahwa jika dia tidak dapat memperoleh cinta kasih dan rasa aman, maka dia akan melakukan balas dendam kepada perasaan tidak menarik dan kurangnya. Beberapa tahun kemudian dia menulis, “Jika aku tidak bisa menjadi cantik, maka aku harus menjadi pandai.” Dia berjanji untuk selalu menjadi yang pertama di kelasnya. Ketika dewasa, dia menyadari betapa banyak rasa permusuhan yang telah dia bangun pada masa kecil. Teori kepribadian Horney menjelaskan bagaimana rasa cinta yang tidak terpenuhi pada masa kanak-kanak mendorong berkembangnya kecemasan dan permusuhan dasar.

    Pada usia 12 tahun, setelah menjalani bermacam-macam perawatan untuk suatu penyakit dari seorang dokter, dia memutuskan untuk berkarier di bidang medis. Di tengah-tengah perlawanan kepada ayahnya dan perasaan tidak berharga serta putus asa, selama di SMU Horney berusaha keras untuk mewujudkan cita-citanya masuk sekolah medis. Pada tahun 1904, ibunya menceraikan ayahnya dan meninggalkan Karen dan Berndt -kakaknya- dengan ayahnya. Tahun 1906, dia masuk sekolah kedokteran di Universitas Freiburg hanya karena ingin melawan keinginan orangtuanya dan tentu saja menentang kebiasaan umum bagi masyarakat kala itu.

    Pada usia 24 tahun, pada 1909, Horney menikah dengan Oscar Horney, seorang pengacara dari Berlin. Tahun 1910, Karen melahirkan Brigitte, anak perempuan pertama dari tiga orang anak perempuannya. Lalu, pada tahun 1911, ibunya meninggal. Rangkaian peristiwa ini sangat berat dirasakan Karen. Inilah yang kemudian mengantarkannya menjadi seorang psikoanalis.

    Pada 1926, Horney dan suaminya berpisah, dan enam tahun kemudian dia pindah ke Amerika, Pertama-tama bekerja di Chicago dan akhirnya menetap di New York. Di antara rekannya adalah Erich Fromm dan Harry Stack Sullivan. Selama beberapa tahun dia mengembangkan sebagian besar teorinya. Dia membuka praktik, mengajar, dan menulis. Pada akhir hayatnya dia tertarik pada agama Budha Zen, dan dia telah menunjungi beberapa biara Zen di Jepang beberapa tahun sebelum meninggal. Sampai akhirnya meninggal tahun 1952.

    Teori psikoanalisis sosial dari Karen Horney dibentuk berdasarkan asumsi bahwa kondisi sosial dan kultural, terutama pengalaman-pengalaman masa kanak-kanak sangat besar pengaruhnya dalam membentuk kepribadian seseorang. Orang-orang yang tidak mendapatkan kebutuhan akan cinta dan kasih sayang yang cukup selama masa kanak-kanak mengembangkna rasa permusuhan dasar (basic hostility) terhadap orang tua mereka dan, sebagai akibatnya, megalami kecemasan dasar (basic anxiety). Awalnya ia adalah pengikut dari teori Sigmun Freud, namun dalam berjalannya waktu beliau terpengaruh oleh oleh Jung dan Adler. Akhirnya beliau mengembangkan pendekatan kepribadian yang holistik; manusia berada dalam satu totalitas pengalaman dan fungsinya, dan bagian-bagian kepribadian seperti fisikokimia, emosi, kognisi, sosial, kultural, spiritual, hanya dapat dipelajari dalam hubungannya satu dengan yang lain sebagai kepribadian yang utuh. Teori kepribadian Karen Horney termasuk kedalam paradigma Psikoanalisis. 

Konsep Ajaran Teori Karen Horney

    Konsep utama Teori Karen Horney adalah kecemasan dasar. Yaitu perasaan yang terdapat pada anak, yang disebabkan oleh rasa terisolasi dan tidak berdaya dalam menghadapi hal-hal yang ada di lingkungan dan membuat anak merasa tidak aman. Hal-hal yang menumbuhkan rasa tidak aman adalah dominasi. Baik dominasi tersebut datang atau muncul secara langsung maupun tidak langsung. Hal lain yang menumbuhkan rasa tidak aman yaitu, sikap masa bodoh dari orangtua, kurang adanya penghargaan terhadap kebutuhan-kebutuhan anak, orangtua kurang kesungguhan dalam membimbing anak, sikap orangtua meremehkan anak, kurang adanya kehangatan orangtua, suasana permusuhan, dan lain sebagainya.

    Segala sesuatu yang mengganggu keamanan anak dalam hubungan dengan orangtuanya akan    menimbulkan kecemasan dasar. Anak yang tidak aman dan cemas akan menempuh berbagai siasat untuk mengatasi perasaan-perasaan terisolasi dan rasa tidak berdaya. Cara-cara yang ditempuh anak antara lain:

  1. Anak bisa menjadi bermusuhan dan ingin membalas dendam terhadap orang-orang yang menolaknya atau sewenang-wenang terhadapnya. Serta anak bisa tumbuh menjadi sangat patuh, untuk mendapatkan kembali cinta yang dirasanya telah hilang.
  2. Anak mengembangkan gambaran diri yang tidak realistik sebagai kompensasi terhadap perasaan-perasaan inferioritasnya. Anak dapat menyogok atau mengancam orang lain supaya mencintainya. Membuat dirinya merasa patut dikasihani untuk mendapat simpati dari orang lain.
  3. Bila anak tidak mendapatkan cinta, maka ia akan berusaha menguasai orang lain sebagai kompensasi terhadap rasa ketidakberdayaan. Dia akan mengeksploitasi orang lain, mencari cara untuk menyalurkan permusuhan, meremehkan diri sendiri, menjadi sangat kompetitif, dan lain sebagainya.  

Macam - Macam Kebutuhan Neurotik Menurut Teori Karen Horney

    Horney membagi kebutuhan neurotik kepada beberapa jenis, yaitu:

  1. Kebutuhan neurotik akan kasih sayang dan penerimaan.

    Yaitu keinginan yang membabi buta untuk menyenangkan orang lain dan berbuat sesuai dengan harapan-harapan mereka. Orang dengan kebutuhan kasih sayang yang neurotik ini mengharapkan pendapat dari orang lain dan amat peka terhadap penolakan atau ketidakramahan.

  1. Kebutuhan neurotik akan mitra atau sahabat yang bersedia mengurus kehidupan seseorang.

    Orang dengan kebutuhan ini akan menjadi parasit dalam interaksi sosial khususnya ke hubungan orangtua anak, atau hubungan pasangan. Ia akan terlalu menghargai cinta dan sangat takut diabaikanatauditinggalkan sendirian.

  1. Kebutuhan neurotik untuk membatasi kehidupan dalam batas yang sempit.

    Orang dengan kebutuhan ini tidak menuntut, puas dengan yang serba sedikit, lebih suka tetap tidak dikenal, sangat menginginkan kesendirian. Dalam skala kecil terlihat tidak mengganggu, namun orang tipe ini tidak banyak mengijinkan orang lain masuk ke zona dekatnya. Atau mengijinkan didekati oleh orang-orang.

  1. Kebutuhan neurotik akan kekuasaan.

    Orang dengan kebutuhan ini ingin berkuasa demi kekuasaan itu sendiri. Orang tipe ini sama sekali tidak hormat terhadap orang lain. Jika dia tampak hormat adalah upaya untuk mendapatkan apa yang ingin dia dapatkan. Dia sangat memuja segala bentuk kekuasaan untuk dapat mengendalikan dan mengatur sesuatu diluar dirinya. Orang yang takut menunjukkan kebutuhan ini secara terang-terangan akan menguasai orang lain melalui eksploitasi dan superioritas intelektual. Orang-orang dengan kebutuhan ini percaya akan kemahakuasaan kemauan. Mereka percaya dapat mencapai apa saja dengan menggunakan kekuatan kekuasaan.

  1. Kebutuhan neurotik untuk mengeksploitasi orang lain.

    Mereka bisa mengupayakan untuk mendapatkan kekuasaan dengan tujuan dapat mengendalikan orang lain. Atau dengan jalan kekayaan dan uang untuk mengendalikan orang lain.

  1. Kebutuhan neurotik akan prestise.

    Orang dengan kebutuhan ini percaya bahwa harga diri seseorang ditentukan oleh banyaknya penghargaan yang diterima dari masyarakat.

  1. Kebutuhan neurotik akan kekaguman pribadi.

    Orang-orang dengan kebutuhan ini mempunyai gambaran diri yang melambung dan ingin dikagumi. Dia selalui ingin dipuji dan disanjung. Dia menganggap dirinya lebih baik dari orang lain, dan layak mendapatkan prioritas dan jabatan atau prestasi yang lebih dibandingkan orang lain.

  1. Ambisi neurotik akan prestasi pribadi.

    Orang dengan kebutuhan ini ingin menjadi yang terbaik dan memaksa diri untuk semakin berprestasi guna mendapatkan rasa aman.

  1. Kebutuhan neurotik untuk berdiri sendiri dan bebas (mempunyai independensi).

    Orang tipe ini seringkali merasa pernah kecewa dalam usaha menemukan hubungan-hubungan yang hangat dan memuaskan dengan orang lain. Kemudian orang-orang ini memisahkan diri dan tidak mau terikat pada siapapun atau apapun. Mereka menjadi orang-orang yang menyendiri dan tidak mau terikat dengan organisasi, kelompok, atau peraturan, dan hubungan dekat dengan orang lain.

  1. Kebutuhan neurotik akan kesempurnaan dan ketidaktercelaan.

    Orang tipe ini takut membuat kesalahan dan dikritik. Sehingga terkadang dia takut untuk mencoba hal baru, atau takut tampil di depan banyak orang. Orang tipe ini berusaha membuat diri mereka sebagai orang tidak terkalahkan dan tanpa cela. Mereka terus menerus mencari kekurangan-kekurangan diri agar dapat ditutupi sebelum diketahui oleh orang lain.

Menurut Horney, sepuluh kebutuhan tersebut merupakan sumber yang menyebabkan konflik batin dan merupakan kebutuhan yang tidak realistik

Orientasi kebutuhan terhadap Kecemasan

Horney juga mengelompokkan sepuluh kebutuhan yang disebutkan di atas ke dalam tiga kelompok, yaitu kebutuhan dengan orientasi:

  1. Bergerak menuju orang lain (moving toward people), misalnya, kebutuhan akan cinta
  2. Orientasi bergerak menjauhi orang lain (moving away from people), misalnya, kebutuhan independen
  3. Bergerak melawan orang lain (moving again people), misalnya, kebutuhan berkuasa

    Setiap kelompok kebutuhan tersebut menunjukkan orientasi dasar terhadap orang lain dan diri sendiri. Menurut Karen Horney, pada setiap orientasi ditemukan adanya dasar konflik batin. Dasar konflik batin ini akan menentukan normal atau neurotiknya seseorang, dan yang menentukan adalah tingkatannya. Jadi pada dasarnya, setiap orang mempunyai konflik batin. Tetapi pada orang-orang tertentu (yang mengalami penolakan, pemanjaan, perlindungan yang berlebihan, dan lain sebagainya), cenderung mempunyai konflik dalam taraf yang memberatkan.

 Perbedaan Antara Orang Normal Dan Kecenderungan Neurotik 

Orang yang sehat atau normal adalah dimana konflik batinnya tersebut tidak mengganggu aktivitas hidupnya. Atau malah, konflik batinnya tersebut mampu menjadikan energi yang mendorongnya untuk berprestasi atau menjadi lebih baik. Sebaliknya, orang dengan kondisi yang tidak sehat jika konflik batinnya mampu menghambat dirinya menjadi lebih baik, terus mengganggu aktivitas hidupnya. Sehingga dia menjadi tidak bisa berdaya melakukan aktivitas hidupnya dengan lebih baik.

Ketiga orientasi terhadap kecemasan tersebut tidak ada yang lebih baik. Hanya saja, pada orang-orang normal atau sehat cenderung mengintegrasikan ketiga orientasi tersebut. Akan efektif diterapkan orientasi tertentu pada kondisi tertentu.

Sedangkan orang-orang neurotik cenderung menggunakan pemecahan yang irasional dan dibuat-buat. Karena mereka mengalami kecemasan dasar yang lebih kuat, mereka juga cenderung menggunakan satu orientasi saja dan tidak mengakui yang lain. Menurut Karen Horney, konflik-konflik itu dapat dihindarkan dan dipecahkan, kalau anak dibesarkan dalam keluarga yang memberi rasa aman, cinta, memberi kepercayaan, menghargai, dan toleransi.

 Contoh

 Neurotik berkembang berdasarkan pengalaman yang diperolehnya pada masa kanak-kanak, terkait dengan hukuman dan ancaman dari orang tua maupun orang lain yang mempunyai otoritas, jika dia melakukan perbuatan impulsif.

 Kecemasan neurotik merupakan kecemasan yang muncul tanpa diketahui bahaya yang mengancamnya. si A bisa saja merasa cemas dengan ketika bertemu dosen, A merasa cemas karena pada masa kecilnya mungkin ia sering mendapat hukuman oleh gurunya di sekolahnya atau sesuatu yang dapat membuat ia menjadi selalu mengingat hal tersebut, dan hal tersebut membuat A menjadi mogok berhenti studi. Kemudian si A ini memisahkan diri dan tidak mau terikat pada siapapun atau apapun. Dia menjadi orang-orang yang menyendiri dan tidak mau terikat dengan organisasi, kelompok, atau peraturan, dan hubungan dekat dengan orang lain. Hal tersebut ditemukan adanya dasar konflik batin. Dasar konflik batin ini akan menentukan normal atau neurotiknya seseorang, dan yang menentukan adalah tingkatannya. Jadi pada dasarnya, setiap orang mempunyai konflik batin. Tetapi pada orang-orang tertentu (yang mengalami penolakan, pemanjaan, perlindungan yang berlebihan, dan lain sebagainya), cenderung mempunyai konflik dalam taraf yang memberatkan.

 

 

 

~ Terima Kasih ~

Komentar